Sabtu, 20 Juni 2009

ULAR TANGGA

Ini adalah komentar Ko Stephanus Herry (penulis buku Pengabdian yang Ternoda) dalam FB saya hari ini, sangat memberkati untuk menjadi perenungan bagi kita:
Jika kita renung2, hidup kita ini seperti permainan ular tangga, salah2 kita bisa menginjak ular dan terjadilah penurunan. Tapi apabila bertemu tangga, maka kita mengalami pertambahan dan penaikan. Karena itu, betapa penting hidup kita bergantung kepada Tuhan, sehingga setiap langkah kita berada dalam bimbingan-Nya. Ketika seseorang berjalan dalam anugerah-Nya, maka kita melihat sebuah pembedaan yang dikerjakan oleh Tangan Tuhan di dalam hidupnya.

Jumat, 19 Juni 2009

BUANGLAH!

Hal yang memprihatinkan saat melihat keadaan dari tubuh Kristus hari-hari ini. Terjadinya sebuah pertumbuhan dalam pengetahuan akan kebenaran, tetapi tidak disertai dengan pertumbuhan dalam kehidupan. Dengan berlalunya waktu, maka kita makin banyak mengetahui kebenaran demi kebenaran. Ini adalah merupakan hasil dari pembelajaran sebagai seorang murid. Kita akan menjadi semakin "kritis" dalam mengamati dan meresponi segala sesuatu yang terjadi disekitar kita. Tetapi jika kita tidak berhati-hati, maka kita hanya akan menjadi "Kritikus". 
Ams 4:23 berkata bahwa Tuhan memerintahkan untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Betapa kita harus berfokus pada hati, menjaganya agar tetap terjaga kemurniannya. Sebab jika tidak, maka aliran kehidupan itu menjadi terhambat.
Berulang kali kita menjumpai kata BUANGLAH dalam Firman Tuhan. Tuhan memerintahkan untuk kita membuang segala bentuk kejahatan, kepahitan dan masih banyak lagi. Mengapa harus dibuang? Karena jika semua itu tetap tinggal dalam hati kita, maka percayalah bahwa kehidupan Tuhan yang seharusnya terpancar, menjadi terhambat. Bagian Roh Kudus adalah  menunjukan hal-hal yang harus kita buang (Penginsyafan),  Sedangkan bagian kitalah yang memutuskan untuk membuang semua sampah-sampah yang mencemari hati kita. Rajinlah dalam menjaga kemurnian hati, agar kita dapat bertumbuh dalam kehidupan. Disaat hati kita terjaga kemuriniannya, maka betapa dasyatnya dampak dari kebenaran yang kita ketahui

Minggu, 14 Juni 2009

MODAL KEPERCAYAAN

Untuk mencapai keberhasilan dalam kehidupan ini, maka dibutuhkan 2 macam kepercayaan. Yang pertama adalah Kepercayaan kita kepada Tuhan (IMAN).  Yang kedua adalah Kepercayaan Tuhan kepada kita. Dua hal inilah yang menjadi syarat untuk mengalami kesuksesan dalam panggilan kita.

Percayakah kita bahwa Dia menginginkan kita berhasil? Percayakah kita bahwa Dia telah menyediakan semua yang kita butuhkan untuk mencapai keberhasilan? Bukankah Kasih Karunia dan Hikmat yang berasal dari Tuhan adalah modal untuk kita mencapai keberhasilan dalam kehidupan ini?

Yang kedua adalah apakah Tuhan dapat mempercayai kita? Dalam hubungan seorang Pemilik dan Pengelola, maka kepercayaan adalah modal yang utama. Lebih dari semua skill, kharisma yang dimiliki oleh seseorang, maka kualitas hidup yang dapat dipercaya menjadi syarat utama. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin Bapa percayakan kepada kita, hanya sayangnya kita kurang memiliki pengertian dan tanggung jawab sebagai seorang pengelola. Setialah pada perkara yang kecil, supaya Bapa dapat mempercayakan banyak hal lagi dalam kehidupan kita. Belajarlah jadi seorang pengelola yang bertanggung jawab terhadap apa yang dipercayakan Tuhan pada kita, sehingga kita didapati sebagai orang kepercayaannya Tuhan...

Jumat, 12 Juni 2009

PENGANGKATAN

Hari-hari ini berita mengenai Pengangkatan Gereja mulai terdengar lagi. Beberapa hamba Tuhan kembali mengingatkan Gereja Tuhan untuk bersiap. Ada berbagai tanggapan baik yang Pro dan ada juga yang Kontra. Ketika saya merenungkan hal ini, ada sebuah pertanyaan yang membuat saya berpikir, "Apakah saya termasuk orang yang sedang merindukan kedatanganNya?" Saya tersadar bahwa yang lebih penting dari kapan terjadinya waktu pengangkatan adalah kondisi hati saya yang benar dihadapanNya. Apakah PASSION for Him masih ada dalam hati saya? 
Menurut pendapat saya, berita mengenai Pengangkatan Gereja harus disikapi sebagai suatu Warning (Alarm Pengingat) bagi kita. Jika Dia datang saat ini, apakah hati kita layak menyambutNya? Bukankah kita adalah mempelaiNya? Apakah Gairah, Kerinduan akan Yesus masih ada dalam hati kita?  Atau jangan-jangan hati kita sudah mulai tawar...  Bisa saja kita masih memiliki prestasi rohani seperti jemaat Efesus dalam Why 2, tetapi yang terpenting dari semuanya adalah hubungan kasih antara kita dengan Dia. Koreksilah kondisi hati kita, evaluasilah hubungan pribadi kita dengan Dia, mintalah untuk Roh Kudus menginsyafkan keadaan kita yang sesungguhnya.

APA YANG PENTING?

Yang menjadi harapan dari setiap kita adalah bukan sekedar hidup, melainkan memiliki kehidupan yang berkualitas. Terlalu banyak orang yang sekedar hidup, tetapi kehidupannya tidak berkualitas.

Berkualitas atau tidaknya kehidupan ini salah satunya ditentukan oleh apa yang kita anggap penting dalam hidup ini. Bukankah apa yang kita anggap penting akan menentukan prioritas dalam kehidupan ini. Sayangnya banyak yang kita anggap sebagai sesuatu yang penting, sesungguhnya bukan hal-hal yang penting. Firman Tuhan harus menjadi patokan (Tolak ukur) untuk menentukan sesuatu yang penting, karena jika tidak maka kita akan rancu dalam menentukan pilihan-pilihan.

Sebagian orang mengganggap uang adalah penting, tidak heran jika prioritas hidupnya adalah bagaimana untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Ada juga yang mengganggap hobinya sebagai sesuatu yang penting. Sebagian yang lain menganggap penting kariernya, itu sebabnya ia kurang mempedulikan untuk menyediakan waktu bagi keluarganya. Pernahkah kita mengevaluasi hal-hal apa sajakah yang kita anggap penting dalam hidup ini? 

Dibutuhkan hikmat untuk memiliki hati yang bijak, sehingga apa yang kita anggap dan tempatkan sebagai sesuatu yang penting, itu semua memang hal-hal yang penting. Apakah menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan merupakan sesuatu yang penting? Karena jika benar, maka kesibukan tidak akan menjadi penghalang untuk kita melakukannya. Bukankah kita selalu memiliki waktu untuk sesuatu yang kita anggap penting? Bagi kita, makan adalah sesuatu yang penting, itu sebabnya walaupun kesibukan kita begitu menumpuk, maka kita akan tetap menyediakan waktu untuk melakukannya. Semoga kita adalah orang-orang yang tepat dalam menentukan dan memutuskan sesuatu yang benar-benar penting dalam kehidupan ini.

Rabu, 10 Juni 2009

KEKEKALAN VS KEKINIAN

Pernahkah kita berpikir bahwa kita diciptakan dengan kekekalan? Artinya kita akan hidup selama-lamanya. Bukankah kita adalah mahluk roh, yang memiliki jiwa (pikiran, emosi dan kehendak) dan tinggal dalam tubuh. Tubuh ini akan mengalami kematian, tetapi tidak demikian dengan roh kita. 
Hal yang menyedihkan adalah kita selalu berfokus pada kekinian kita sehingga cenderung melupakan untuk mempersiapkan kekekalan kita. Ayah rohani saya, yaitu bapak Cornelius Wing suatu kali pernah membuat pernyataan bahwa Kita akan mengalami dua kemungkinan: menyesal untuk selamanya atau bahagia selamanya. Tidak ada yang salah dengan kekinian kita, tetapi sayangnya seringkali perhatian, energi hanya kita habiskan untuk mengurus segala sesutu yang bersifat kekinian (masa kini kita). Bukankah apa yang kita lakukan selama hidup ini akan menentukan keadaan kekekalan kita?
Jangan biarkan iblis mengacaukan perhatian kita, sehingga kita melupakan betapa penting dan berartinya untuk kita mempersiapkan kekekalan kita. Bagaimana caranya untuk mempersiapkan kekekalan kita?
Sudahkah kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita?
Jika kita sudah menerimaNya, maka pertanyaan berikutnya adalah apa usaha kita untuk dapat mengenal Dia (bukan sekedar tahu tentang Dia)?
Karena lewat mengenal PribadiNyalah, maka kita akan mengetahui apa yang menjadi rencana dan kehendakNya atas kehidupan ini. Pada akhirnya  yang diinginkanNya dari hidup ini adalah kita memenuhi seluruh Destiny Ilahi yang telah ditetapkannya bagi kita. Berhentilah sejenak dari semua kesibukan, mulailah luangkan waktu untuk berpikir: Sudahkah saya mempersiapkan dengan baik dan sungguh-sungguh KEKEKALAN saya? Semoga kita tidak akan menyesal untuk selamanya, tetapi bahagia sampai selama-lamanya....

DIBERSIHKAN SUPAYA LEBIH BANYAK BERBUAH

Dalam Yoh 15:2 ditulis bahwa setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Ada beberapa hal yang menarik untuk direnungkan:
1. DibersihkanNya.
Kata Nya artiya yang membersihkan kehidupan kita adalah Tuhan. Roh Kudus adalah Pribadi yang diutus oleh Bapa untuk "membersihkan" kehidupan kita.  
2. Supaya lebih banyak berbuah.
Tujuan dari pembersihan adalah supaya kehidupan kita mengalami kemaksimalan dalam menghasilkan buah-buah kehidupan. Dengan kata lain seringkali kita belum mengalami kemaksimalan karena kita menolak saat Roh Kudus membersihkan.
3. Bagaimana cara Dia membersihkan kita?
Kapan Roh Kudus membersihkan kehidupan kita? Itu terjadi saat Roh Kudus menginsyafkan (menegur dengan menunjukan) akan kesalahan atau dosa. Putuskan untuk segera membereskannya. Dititik inilah betapa pentingnya memberi respon dengan kelembutan hati (bukan dengan kekerasan hati). Seringkali kita "NGEYEL" saat Roh Kudus memberi teguran. Ganti dari mengakuinya dan bertobat, justru banyak kali kita mencoba untuk membela diri dengan tujuan untuk membenarkan diri sendiri. Jika kita terus melakukannya, maka itu hanya akan berdampak negatif, karena bagaimana mungkin menghasilkan buah yang bertambah lebat?  

Selasa, 09 Juni 2009

MENIKMATI KEJATUHAN ORANG LAIN

Berapa waktu lalu saat berbincang-bincang dengan seorang teman, ia bercerita bahwa ada sebuah gereja yang saya kenal sedang diambang perpecahan. Yang anehnya adalah mengapa ada perasaan senang saat saya mendengar berita ini?
Hari ini saat saya mengingat kembali akan berita ini, ada sebuah pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri, "Mengapa ada perasaan senang saat mendengar berita ini? Bukankah seharusnya saya bersedih dan berdoa bagi mereka, sehingga perpecahan itu dapat dihindarkan?" 
Ternyata Roh Kudus sedang menginsyafkan mengenai keadaan hati saya yang sesungguhnya yaitu sudah terjadi pencemaran didalamnya. Saya bertobat meminta pengampunan Tuhan atas perasaan saya yang "jahat" ini. Saya lanjutkan dengan mengambil keputusan untuk berdoa bagi mereka dan meminta anugerah Tuhan dapat dinyatakan dalam gereja ini. Apakah ini yang dimaksud dengan menjaga hati dengan segala kewaspadaan?
Bukankah seringkali kita mengalami perasaan yang serupa? Saat kita mendengar atau mengetahui ada seorang yang "kurang kita sukai" (yang mungkin pernah melukai kita di masa lalu) dan mereka sedang berada dalam masalah besar atau kejatuhan, bagaimana perasaan kita? Suka cita atau justru duka cita saat mengetahui berita itu? Memang dibutuhkan kejujuran terhadap diri sendiri, saat Roh Kudus menyingkapkan isi hati kita. Demi tercapainya kemurnian hati, maka dibutuhkan kewaspadaan dan kejujuran terhadap diri sendiri. Jika kita hidup dalam kasih, maka bagaimana mungkin kita dapat "menikmati" kejatuhan orang lain? Izinkanlah untuk Roh Kudus terus "memurnikan" keadaan hati kita dari hari ke hari.... 

HIKMAT ADALAH KEBUTUHAN ESENSI

Banyak orang percaya yang sudah menerima dan mengetahui Kebenaran, tetapi mengapa kehidupan mereka tidak menjadi lebih baik dari sebelumnya? Mengapa pengetahuan mereka terhadap kebenaran tidak menjamin perbedaan?  Menurut pendapat saya, ternyata akar permasalahannya adalah pada ketidak mampuan pribadi tersebut dalam menerapkan kebenaran didalam kehidupannya. Memiliki kebenaran tanpa kemampuan menerapkannya adalah sama seperti memiliki perkakas yang lengkap, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk menggunakannya.
Evelyn Chistenson dalam bukunya Lord Change Me menulis: Hikmat bukanlah sekedar pengetahuan intelektual atau spekulasi filsafat, tetapi sebuah gaya hidup praktis yang dapat diterapkan. Bukan sekedar mengetahui sesuatu di kepala anda, tetapi menerapkannya dalam hidup sehingga hal tersebut menjadi bagian dari diri anda.
Edwin Louis Cole suatu kali berkata: Knowledge is the acquiring of facts. Understanding is the interpreting of facts. Wisdom is the application of facts.
Dalam Ams 4:5-6 ditulis:
5 Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku.
6 Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya.

Banyak orang yang mengalami kegagalan disaat mencoba melakukan kebenaran yang sudah mereka ketahui penyebabnya adalah karena kurangnya hikmat. Mereka mengalami kesulitan dalam menerapkan kebenaran yang mana dalam keadaan yang sedang mereka hadapai saat itu. Mintalah HIKMAT kepada Tuhan, supaya kita beroleh kemampuan untuk menerapkan semua kebenaran yang telah kita ketahui. Janganlah lupa bahwa Kebenaran adalah seperti Sabun, baru dirasakan manfaatnya setelah kita menggunakannya. Sudahkah kita memperoleh Hikmat?

FIRMAN TUHAN MENJADI KESUKAAN

Keberhasilan adalah kerinduan dari semua orang. Sayangnya merindukan saja tidak membuat kita dapat mencapainya. Jika kita melihat dalam Mzm 1, maka ada satu rahasia yang Firman Tuhan berikan bagi kita jika kita merindukan Keberhasilan dalam kehidupan yaitu yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Pertanyaan yang harus direnungkan adalah sudakah selama ini Firman Tuhan menjadi kesukaan bagi kita? Mengapa seseorang belum berhasil merenungkan Firman siang dan malam? Karena Firman Tuhan belum menjadi kesukaan bagi kita. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang sudah memiliki hubungan dengan Firman Tuhan dalam keseharian mereka, melalui pembacaan Alkitab rutin. Sayangnya banyak kita melakukannya baru sampai titik dimana kita melakukannya karena sebuah kewajiban. Untuk sampai pada level Firman Tuhan menjadi kesukaan, maka kita harus terlebih dahulu menemukan keberhargaan, keluarbiasaan, keajaiban dari Firman Tuhan. Untuk mencapai titik ini dibutuhkan hati yang rindu seperti Pemazmur dalam Mzm 119:18, "Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu." Berdoalah supaya Tuhan menyingkapkan bagi kita betapa luar biasanya dan berharganya Firman Tuhan. Dengan demikian kita akan menemukan sisi lain dari Firman Tuhan, yaitu sisi kenikmatan dan manfaat yang luar biasa. Semoga kita menjadikan Firman Tuhan sebagai kesukaan kita...

Sabtu, 06 Juni 2009

KETERGANTUNGAN PADA ROH KUDUS

Tuhan telah merancang kehidupan kekristenan sampai kapanpun tidak akan pernah dapat dipisahkan dari pribadi Roh Kudus. Hati seorang Murid yang rindu belajar akan membuat kita semakin mengerti Kebenaran. Disatu sisi kita begitu bersuka karena semakin mengerti kebenaran demi kebenaran, tetapi disisi yang lain ada sisi tanggung jawab untuk melakukan kebenaran yang telah kita ketahui. Cepat atau lambat kita akan menyadari bahwa betapa lemah dan terbatasnya kehidupan kita dalam usaha untuk memenuhi standar kebenaran yang Tuhan telah tetapkan. Tidak sedikit orang yang merasa frustasi, disaat mereka berusaha untuk memenuhi standar itu ternyata mereka gagal

Dititik inilah kita membutuhkan peranan Roh Kudus yang akan memberi kemampuan sehingga kita dapat memenuhi tuntutan kebenaran. Jangan hanya sibuk memiliki hati yang belajar, tetapi bangunlah hubungan dengan pribadi Roh Kudus lebih lagi. Tanpa persekutuan dengan Roh Kudus akan membuat kekristenan hanyalah agama yang mematikan. Dia adalah kehidupan kita. Hanya Dialah yang memampukan kita hidup dalam kebenaran.

SIAPKAH KITA TERGANGGU?

Masih ingatkah kita mengenai kisah seorang yang lumpuh dan dibawa oleh 4 orang kehadapan Yesus, sehingga si lumpuh ini mengalami kesembuhan? Kita begitu kagum akan pengorbanan mereka yang pantang menyerah. Kehidupan mereka merupakan inspirasi bagi kita. Untuk menjadi berkat, empat orang ini bermodalkan tenaga dan semangat yang pantang menyerah. Pernahkah terpikir oleh kita, ada pribadi lain yang memiliki andil untuk terjadinya kesembuhan orang lumpuh ini?
Tertulis dalam Mrk 2:4, “ Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.”
Orang itu adalah sang pemilik rumah. Tempatkanlah diri kita pada posisi orang itu, relakah saat atap rumah kita dibongkar? Mungkin saja saat hal itu terjadi dalam kehidupan kita, kemarahan yang menjadi reaksinya, mengapa? Karena kita tidak rela saat rumah kita “dirusak” oleh orang. Walaupun tidak diceritakan secara terperinci dalam kisah ini, kita patut memberikan penghargaan kepada sang pemilik rumah. Orang ini telah menjadi teladan bagi kita. Karena kerelaan hatinya untuk berkorban, maka ada seorang yang dapat mengalami kesembuhan dari Yesus. Jangan berpikir bahwa setiap kali berbicara mengenai berkorban, maka itu identik dengan uang. Korban waktu, korban perasaan, korban kenyamanan adalah bentuk pengorbanan juga. Bersiaplah untuk menjadi berkat bagi sesama, walaupun konsekuensinya kita harus berkorban. Saat kita berkorban, maka itu adalah bukti nyata dari kasih kita kepada Allah dan sesama. Ternyata modal kerinduan saja belumlah cukup. “Ya Tuhan… berikanlah kepada kami hati yang rela.”

PERHATIKAN DENGAN SEKSAMA

Betapa mudahnya memperhatikan kehidupan orang lain dengan seksama. Akibatnya kita dapat melihat dan menemukan kekurangan yang ada dalam kehidupan orang tersebut.  Tetapi pernahkah kita memperhatikan diri sendiri dengan seksama? Firman Tuhan dalam Dalam Ef 5:15 ditulis: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif .." 

Mengapa kita harus memperhatikan dengan seksama? Karena saat kita memperhatikan sesuatu hal secara sepintas, maka kita tidak akan menemukan kekurangan yang ada. Jika kita merindukan memiliki kehidupan rohani yang sehat, maka nasehat Firman Tuhan ini harus kita lakukan secara rutin. Milikilah waktu untuk memperhatikan bagaimana selama ini kita hidup. Betapa mudahnya kita mengalami pergeseran hati, motivasi, prioritas dan masih banyak lagi. Jika pergeseran itu tidak dikenali sedini mungkin, maka kita akan menjadi seorang yang merasa benar, tetapi sesungguhnya ada banyak penyimpangan dalam kehidupan kita. Lihatlah kehidupan kita dengan kaca mata kejujuran, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus saat kita melakukannya. Pemazmur meminta untuk Tuhan menyelidiki hatinya, bukankah kita juga perlu melakukan  hal yang sama? Saat kita memperhatikan kehidupan ini dengan seksama, temukan hal-hal yang sekecil apapun yang merupakan penyimpangan. Setelah berhasil menemukannya, maka bereskanlah hal itu sesegera mungkin.