Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"....
Christianty without discipleship is always christianity without Christ (Dietrich Bonhoeffer)
Senin, 28 Maret 2011
DASYAT & LUAR BIASA???
Saya sering mendengar seorang Worship Leader ketika memulai acara Pujian Penyembahan di sebuah kebaktian, menyapa jemaat dengan sapaan, "Apa kabar saudara?" Dengan kompaknya jemaat langsung menyahut, "Dasyat, Luar biasa!" Dan yang lebih "seru" jika ditambah kata YES sebanyak 3 kali. Tanpa bermaksud menjadi pengkritik, tetapi saya menemukan adanya kejanggalan dan tergoda untuk bertanya kepada jemaat, "Apanya yang dasyat? Luar biasa seperti apa?" Jangan sampai jawaban itu hanya sebatas formalitas atau slogan kosong belaka. Karena seharusnya ketika jemaat mengatakannya, mereka memang mengalaminya.
Sangat disayangkan saat mengucapkan kalimat: dasyat dan luar biasa, itu baru sebatas kata-kata iman yang diucapkan sebagai bentuk harapan, tetapi belum menjadi kenyataan yang dialami oleh mereka. Bahkan yang menyedihkan ketika Worship Leader memberi kesempatan untuk jemaat bersaksi, tidak ada seorangpun yang bersaksi. Saya menjadi penasaran dan berpikir, "Bukankah tadi anda berteriak dasyat dan luar biasa??? Mengapa tidak ada seorangpun yang bersaksi?"
Ketika saya merenungkan mengenai betapa miskinnya umat Tuhan dalam mengalami Kristus, maka saya menemukan penyebabnya. Ternyata yang menjadi penyebabnya adalah karena jemaat belum atau kurang melakukan kebenaran. Hanya saat kita melakukan kebenaranlah, maka kita akan mengalami kuasa dari kebenaran tersebut. Bukankah pengalaman menjadi modal untuk seseorang hidup sebagai saksi? Semakin banyak kebenaran yang kita hidupi, maka semakin banyak kebenaran yang akan kita alami. Semakin banyak yang kita alami, semakin banyak yang kita dapat saksikan. Menurut pendapat saya, jangan asal bicara dasyat dan luar biasa, tetapi statement ini harus dapat dipertanggung jawabkan dalam kenyataan.
Sangat disayangkan saat mengucapkan kalimat: dasyat dan luar biasa, itu baru sebatas kata-kata iman yang diucapkan sebagai bentuk harapan, tetapi belum menjadi kenyataan yang dialami oleh mereka. Bahkan yang menyedihkan ketika Worship Leader memberi kesempatan untuk jemaat bersaksi, tidak ada seorangpun yang bersaksi. Saya menjadi penasaran dan berpikir, "Bukankah tadi anda berteriak dasyat dan luar biasa??? Mengapa tidak ada seorangpun yang bersaksi?"
Ketika saya merenungkan mengenai betapa miskinnya umat Tuhan dalam mengalami Kristus, maka saya menemukan penyebabnya. Ternyata yang menjadi penyebabnya adalah karena jemaat belum atau kurang melakukan kebenaran. Hanya saat kita melakukan kebenaranlah, maka kita akan mengalami kuasa dari kebenaran tersebut. Bukankah pengalaman menjadi modal untuk seseorang hidup sebagai saksi? Semakin banyak kebenaran yang kita hidupi, maka semakin banyak kebenaran yang akan kita alami. Semakin banyak yang kita alami, semakin banyak yang kita dapat saksikan. Menurut pendapat saya, jangan asal bicara dasyat dan luar biasa, tetapi statement ini harus dapat dipertanggung jawabkan dalam kenyataan.
Sabtu, 26 Maret 2011
LIKE FATHER LIKE SON
Banyak orang yang hobbynya mengangkat orang-orang untuk menjadi anak rohaninya. Sepertinya adalah sebuah kebanggan jika memiliki banyak anak rohani di banyak tempat. Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa hubungan bapak dan anak rohani bukan sekedar status atau panggilan, tetapi lebih dari sekedar hal itu? Lewat tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk menghakimi siapapun, tetapi sekedar berbagi perenungan. Yang dibutuhkan seorang anak rohani sebenarnya bukan sekedar diadopsi, tetapi sentuhan yang mendalam & didikan dari sang bapa. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya kualitas hidup sang anak. Like Father Like Son. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itu adalah istilah-istilah dalam dunia hubungan bapa dan anak. Yang membuat saya miris adalah banyak anak-anak rohani yang tidak memiliki kemiripan dengan sang bapa, baik dalam sisi karakter, ketajaman dan kualitas. Jika hal ini terjadi, maka ada beberapa kemungkinan.
Yang pertama karena sang bapa kurang menyentuh hidup sang anak secara konsisten. Bagaimana mungkin sang anak dapat menerima impartasi dari sang bapa, jika bertemu saja jarang. Bagaimana mungkin sang bapa memberi koreksi, didikan jika sang bapa jarang atau bahkan tidak pernah meluangkan waktu dalam kebersamaan bersama sang anak? Bukankah koreksi adalah hasil dari pengamatan keseharian? Sebagai bapa, ingatlah ada tanggung jawab yang besar yang berada di pundak kita. Banyak hal yang harus diwariskan kepada anak-anak kita. Warisan itu dapat berupa teladan, nilai-nilai kehidupan, pengurapan dan lain-lain. Mulailah luangkan waktu dalam quality time bersama anak-anak kita. Kurang tepat jika kita memiliki falsafah: banyak anak, banyak rejeki. Karena sesungguhnya banyak anak, maka semakin banyak tanggung jawab kita. Pertanyaan yang harus dijawab adalah sudahkah kita melaksanakan fungsi seorang bapa secara maksimal?
Yang kedua sisi sebagai anak. Banyak anak rohani yang merasa puas dan bangga karena sedang di bapai oleh bapa-bapa yang hebat atau terkenal, tetapi mereka lupa ada sisi tanggung jawab sebagai seorang anak. Sisi tanggung jawab itu adalah untuk mewarisi kualitas hidup dari bapak-bapak kita. Jangan sampai kebanggaan kita adalah kebanggaan yang semu atau bahkan palsu. Bagi anak-anak rohani, seruan saya adalah bukan sekedar puas mewarisi nama besar bapak rohanimu, tetapi yang seharusnya kita warisi adalah kualitas hidup dan karakter yang besar dari bapakmu. Sudahkah orang-orang melihat dan merasakan kualitas dari bapakmu terlihat dan terasa dalam hidupmu? Yesus berkata kepada murid-muridNya: "Jika engkau melihat Aku, maka sebenarnya engkau sudah melihat Bapa..." Like Father... Like Son.... Apakah kita mirip dengan bapa rohani kita?
Yang pertama karena sang bapa kurang menyentuh hidup sang anak secara konsisten. Bagaimana mungkin sang anak dapat menerima impartasi dari sang bapa, jika bertemu saja jarang. Bagaimana mungkin sang bapa memberi koreksi, didikan jika sang bapa jarang atau bahkan tidak pernah meluangkan waktu dalam kebersamaan bersama sang anak? Bukankah koreksi adalah hasil dari pengamatan keseharian? Sebagai bapa, ingatlah ada tanggung jawab yang besar yang berada di pundak kita. Banyak hal yang harus diwariskan kepada anak-anak kita. Warisan itu dapat berupa teladan, nilai-nilai kehidupan, pengurapan dan lain-lain. Mulailah luangkan waktu dalam quality time bersama anak-anak kita. Kurang tepat jika kita memiliki falsafah: banyak anak, banyak rejeki. Karena sesungguhnya banyak anak, maka semakin banyak tanggung jawab kita. Pertanyaan yang harus dijawab adalah sudahkah kita melaksanakan fungsi seorang bapa secara maksimal?
Yang kedua sisi sebagai anak. Banyak anak rohani yang merasa puas dan bangga karena sedang di bapai oleh bapa-bapa yang hebat atau terkenal, tetapi mereka lupa ada sisi tanggung jawab sebagai seorang anak. Sisi tanggung jawab itu adalah untuk mewarisi kualitas hidup dari bapak-bapak kita. Jangan sampai kebanggaan kita adalah kebanggaan yang semu atau bahkan palsu. Bagi anak-anak rohani, seruan saya adalah bukan sekedar puas mewarisi nama besar bapak rohanimu, tetapi yang seharusnya kita warisi adalah kualitas hidup dan karakter yang besar dari bapakmu. Sudahkah orang-orang melihat dan merasakan kualitas dari bapakmu terlihat dan terasa dalam hidupmu? Yesus berkata kepada murid-muridNya: "Jika engkau melihat Aku, maka sebenarnya engkau sudah melihat Bapa..." Like Father... Like Son.... Apakah kita mirip dengan bapa rohani kita?
BERSATU ATAU HANCUR
Bangsa ini berdiri dan merdeka karena kuasa dari kesatuan, tetapi bangsa ini akan hancur akibat dari perpecahan. Bhineka Tunggal Ikalah yang menjadi modal bagi bapak-bapak kita untuk berjuang merebut kemerdekaan. Sangat disayangkan semangat ini telah mulai luntur. Jangan izinkan kepentingan agama, kesukuan dan hal-hal yang lain memecah belah bangsa kita. Ini saatnya kita kobarkan semangat kebangsaan kita. Satu Nusa satu bangsa, satu bahasa kita. Lihatlah perbedaan yang ada bukan sebagai alasan untuk kita terpecah belah. Justru lihatlah setiap perbedaan yang ada sebagai kekayaan dan alasan untuk kita bersatu. Salah satu hal yang membuat bangsa-bangsa lain kagum adalah karena walaupun bangsa ini memiliki perbedaan, tetapi itu tidak menjadi penghalang untuk terjadinya kesatuan. Seperti lomba lari estafet, para pendahulu kita telah belari dan menyelesaikan bagian mereka. Ingatlah! Tongkat itu sekarang berada di tangan kita. Ini waktunya untuk berlari. Ini waktunya kita berkarya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Jangan izinkan perpecahan menghancurkan, meluluh lantakan bangsa tercinta ini. Perluas pikiranmu yang sempit dalam memandang keberbedaan. Belajar untuk saling menghormati keberbedaan orang lain adalah langkah awal untuk memiliki jiwa yang besar! Jayalah Indonesiaku...
PENONTON, KOMENTATOR ATAUKAH PEMAIN?
Terlalu banyak penonton & komentator di bangsa ini, hanya pemainlah yang akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik. Turunlah dari bangku penonton & mulailah terlibat menjadi pembangun-pembangun bangsa! Mulailah berpikir dan bertanya: Apa yg dapat kuberikan bagi bangsa ini? Mencerca pemerintah tidak membuat bangsa ini berubah. "Apa sumbangsihku untuk mewujudkan Indonesia yang jaya?" Harus menjadi pertanyaan bagi setiap anak bangsa ini. Wujudkanlah itu dalam karya yang nyata, niscaya kita telah memberi sumbangsih bagi bangsa tercinta ini. Seberapa besarkah cintamu bagi bangsa ini? Para Bapa-bapa kita telah menyerahkan nyawanya untuk merebut kemerdekaan Indonesia, sekarang bagian kitalah memberi hidup kita untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan bangsa tercinta ini. Temukan peranmu sebagai pembangun bangsa ini. Seandainya setiap anak bangsa menangkap tugas mulia ini, wajah bangsa ini akan mulai berubah. Kejayaan, keharuman bangsa ini, ditentukan oleh peran kita sebagai anak bangsa. Merdeka Indonesiaku!
HUTANG KEBANGSAAN
Salam kebangsaan... Kesadaran bahwa kita berhutang pada bangsa ini, seharusnya membuat kita mulai berpikir sehingga mengetahui karya apakah u/ membuat indonesia menjadi lebih baik. Mulailah melakukan hal yang menurut kita kecil untuk masyarakat. Selama kita konsisten melakukannya, maka hal-hal kecil atau sepele tersebut akan membawa dampak yang besar dikemudia hari. Tengoklah hal-hal besar yang terjadi hari ini ada karena ada orang-orang yang melakukan hal-hal kecil pada masanya secara konsisten. Bayarlah hutangmu kepada bangsa ini.
Para pendahulu, yaitu para pahlawan telah memberi hidup mereka untuk membuat bangsa ini merdeka. Tongkat estafet telah diserahkan kepada generasi kita. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan tanpa ada yang mengisinya hanya akan menjadi tonggak sejarah. Isilah kemerdekaan bangsa ini dengan karya yang nyata. Diskusi saja tidak merubah nasib bangsa ini. Para pahlawan telah berbuat sesuatu pada zamannya secara maksimal. Pertanyaannya bagaimana dengan kita? Hal apakah yang sudah kita buat bagi bangsa ini? Sudahkah kita mengerjakannya dengan maksimal? Hari ini ada karena hasil perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita, sedangkan kualitas masa depan anak-anak kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan dalam kekinian. Sebagai anak bangsa, tunaikan kewajibanmu... Karya generasi kita bagi bangsa ini akan menoreh sejarah di masa depan. Berhenti menjadi penonton kehancuran yang sedang terjadi di bangsa ini. Ini waktunya semangat kebangsaan kita dibangkitkan! Nyatakan karyamu untuk membuat Indonesia Sejahtera!
Para pendahulu, yaitu para pahlawan telah memberi hidup mereka untuk membuat bangsa ini merdeka. Tongkat estafet telah diserahkan kepada generasi kita. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan tanpa ada yang mengisinya hanya akan menjadi tonggak sejarah. Isilah kemerdekaan bangsa ini dengan karya yang nyata. Diskusi saja tidak merubah nasib bangsa ini. Para pahlawan telah berbuat sesuatu pada zamannya secara maksimal. Pertanyaannya bagaimana dengan kita? Hal apakah yang sudah kita buat bagi bangsa ini? Sudahkah kita mengerjakannya dengan maksimal? Hari ini ada karena hasil perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita, sedangkan kualitas masa depan anak-anak kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan dalam kekinian. Sebagai anak bangsa, tunaikan kewajibanmu... Karya generasi kita bagi bangsa ini akan menoreh sejarah di masa depan. Berhenti menjadi penonton kehancuran yang sedang terjadi di bangsa ini. Ini waktunya semangat kebangsaan kita dibangkitkan! Nyatakan karyamu untuk membuat Indonesia Sejahtera!
POWER OF DECISION
Kenneth W Hagin wrote: Someone once said, "Life is nothing more than a series of decisions." Every day, we make a number of decisions. From the mundane decisions of deciding to get out of bed, what to wear and what to eat, to the critical decisions of where to live, where to work and whom to marry - we are constantly making decisions. Some of decisions aren't very important. Others can affect the rest of our lives. One thing is certain: decisions shape our future. The decisions make today determine where you will be tomorrow, who you will be tomorrow, what you will have tomorrow and what kind of life you will live tomorrow. Learn to lean on the Holy Spirit and He will help you make decisions that will lead you into the life God has planned for you.
GEREJA PERJANJIAN BARU ATAU LAMA
Jack Deere dalam buku Surprised by the Voice of God menulis: Beberapa dari kita di dalam gereja tidak pernah mengalami kemajuan rohani, karena kita membohongi diri kita sendiri dan satu dengan yang lain. Kita memberitahu pada diri kita sendiri bahwa kita memiliki gereja Perjanjian Baru dan bahwa kita adalah orang-orang Perjanjian Baru padahal baik gereja kita maupun kehidupan kita tidak banyak menampilan apa pun dari Perjanjian Baru. Kita tidak bertumbuh secara otomatis dengan perjalanan waktu. Kita tidak hanya menjadi puas dengan pengalaman Kristen yang sangat jauh dibawah Kekristenan Perjanjian Baru, kita sudah mengembangkan segala macam teologi untuk membenarkan pengalaman kita yang rendah mutunya. Tanpa adanya penilaian realistis terhadap pengalaman rohani kita, kita tidak akan pernah mengalami kemajuan di dalam Kerajaan Allah. Pertumbuhan mulai pada saat kita menyadari kemiskinan dan ketidak berdayaan kita secara rohani.
PERTUNJUKAN KEAGAMAAN
Neil Cole dalam buku Organic Church menulis:Dunia ini tertarik kepada Yesus, tetapi mereka tidak ingin menghabiskan waktu mereka dengan isteriNya.Kita tidak cukup hanya memenuhi gereja; kita harus mengubah dunia.
Masyarakat dan budaya harus berubah jika gereja mau sungguh-sungguh efektif.Apakah gereja menjangkau keluar dan melihat kehidupan berubah karena kabar baik tentang Kerajaan Allah? Tentu saja jumlah orang kristen akan meningkat jika ini terjadi, tetapi memenuhi bangku gereja satu hari seminggu bukan apa yang menjadi intisari Kerajaan. Ukuran pengaruh gereja ditemukan dalam masyarakat, dijalan, bukan di bangku gereja.Kita telah membuat gereja menjadi tidak lebih dari pertunjukan keagamaan yang terjadi pada hari Minggu dan setelah semua itu dilakukan kita semua pulang ke rumah, sampai gereja mulai lagi minggu berikutnya, pada waktu yang sama, ditempat yang sama. Apakah seperti ini mempelai Kristus itu? Amanat Agung mengatakan bahwa kita harus “pergi ke seluruh dunia”, tetapi kita telah memutar balikkan segala sesuatu dan membuatnya menjadi “datanglah kepada kami dan dengarlah pesan kami”. Seolah-olah sekedar bergabung pada hari Minggu selama satu setengah jam sudah cukup untuk mengatakan bahwa kita ada “di dalam”. Keselamatan tidak ditentukan oleh kalender hari Minggu anda atau wajah tersenyum anda di gereja. Jangan membawa orang-orang ke gereja sehingga kita kemudian bisa membawa mereka kepada Kristus, tetapi bawalah Kristus kepada orang-orang di mana mereka tinggal. Kita harus membawa Kristus ke dalam kehidupan orang-orang dan hal itu harus ada dalam konteks hubungan. Yesus masih berinkarnasi; kita sekarang adalah kakiNya, tanganNya, mataNya dan mulutNya. Kita adalah tubuh Kristus. Teolog Lesslie Newbigin berkata: “Gereja diutus ke dalam dunia untuk melanjutkan apa yang telah Ia kerjakan sesuai tujuanNya dengan kuasa Roh yang sama dan mendamaikan orang-orang dengan Allah”.
Masyarakat dan budaya harus berubah jika gereja mau sungguh-sungguh efektif.Apakah gereja menjangkau keluar dan melihat kehidupan berubah karena kabar baik tentang Kerajaan Allah? Tentu saja jumlah orang kristen akan meningkat jika ini terjadi, tetapi memenuhi bangku gereja satu hari seminggu bukan apa yang menjadi intisari Kerajaan. Ukuran pengaruh gereja ditemukan dalam masyarakat, dijalan, bukan di bangku gereja.Kita telah membuat gereja menjadi tidak lebih dari pertunjukan keagamaan yang terjadi pada hari Minggu dan setelah semua itu dilakukan kita semua pulang ke rumah, sampai gereja mulai lagi minggu berikutnya, pada waktu yang sama, ditempat yang sama. Apakah seperti ini mempelai Kristus itu? Amanat Agung mengatakan bahwa kita harus “pergi ke seluruh dunia”, tetapi kita telah memutar balikkan segala sesuatu dan membuatnya menjadi “datanglah kepada kami dan dengarlah pesan kami”. Seolah-olah sekedar bergabung pada hari Minggu selama satu setengah jam sudah cukup untuk mengatakan bahwa kita ada “di dalam”. Keselamatan tidak ditentukan oleh kalender hari Minggu anda atau wajah tersenyum anda di gereja. Jangan membawa orang-orang ke gereja sehingga kita kemudian bisa membawa mereka kepada Kristus, tetapi bawalah Kristus kepada orang-orang di mana mereka tinggal. Kita harus membawa Kristus ke dalam kehidupan orang-orang dan hal itu harus ada dalam konteks hubungan. Yesus masih berinkarnasi; kita sekarang adalah kakiNya, tanganNya, mataNya dan mulutNya. Kita adalah tubuh Kristus. Teolog Lesslie Newbigin berkata: “Gereja diutus ke dalam dunia untuk melanjutkan apa yang telah Ia kerjakan sesuai tujuanNya dengan kuasa Roh yang sama dan mendamaikan orang-orang dengan Allah”.
THAT WE MIGHT KNOW HIM
Lynette Hagin menulis dalam artikel yang berjudul That We Might Know Him: It's a natural fact that the more time You spend with someone, the better You know that person. We can also get to know our Heavenly Father by spending time with Him in prayer. DL Moody once said, in effect, "I would rather learn to pray than to preach." Jesus never taught His disciples how to preach, but He did teach them how to pray. Jesus knew that prayer was vital to disciples' success in life and ministry.
BELAJAR BUKAN SEKEDAR MENGUMPULKAN INFORMASI
Stephen K De Silva menulis dalam buku Uang dan Jiwa yang Makmur: Kita hidup dalam sebuah budaya dimana memenuhi diri kita dengan informasi adalah ciri dari pembelajaran. Perhatian kecil yang berharga diberikan kepada bagaimana kita berpikir dan bertingkah laku, yang adalah buah dari kehidupan rohani kita. Seringkali dibutuhkan krisis tertentu untuk memperhadapkan kita dengan kenyataan bahwa semua pengetahuan kita tidak membawa ke dalam perjumpaan dengan Allah dimana kita menerima kasih karuniaNya untuk bertumbuh dalam karakterNya. Dalam proses belajar, Paulus mendorong kita untuk berubah oleh pembaharuan budimu (Rom 12:2). Pengertiannya ada dua: pertama, informasi dan gagasan-gagasan baru, meskipun penting, tidaklah cukup untuk mengubah kita. Kemampuan berpikir kita harus diperbarui. Kedua, kita menjalani hidup dari dalam ke luar. Perilaku kita akan diubah secara permanen hanya ketika pikiran kita berubah. Kita mengerti bahwa pembaruan adalah pekerjaan Roh Kudus. Jadi, sasaran dari pembelajaran tidak hanya memberikan informasi yang banyak kepada orang-orang, tapi juga memimpin mereka unuk berjumpa dengan Roh Kudus agar mereka dapat mengalami pembaruanNya dalam pikiran dan hati mereka. Seringkali dibutuhkan krisis tertentu untuk memperhadapkan kita dengan kenyataan bahwa semua pengetahuan kita tidak membawa kita ke dalam perjumpaan dengan Allah dimana kita menerima kasih karuniaNya untuk bertumbuh dalam karakterNya.
TODAY SORT OF EVANGELISM
John Poulton dalam A Today Sort of Evangelism menulis: Kotbah yang paling efektif datang dari mereka yang menghidupi hal-hal yang mereka katakan. Diri merekalah pesan mereka. Orang-orang Kristen harus serupa dengan apa yang mereka bicarakan. Pribadi-pribadilah yang pada dasarnya berkomunikasi, bukan kata-kata atau ide-ide, keaslian diri yaitu dari sisi terdalam seseorang. Sebuah ketidaktulusan sesaat dapat menimbulkan keraguan terhadap semua percakapan yang telah dibangun sejauh itu. Apa yang terkomunikasikan saat ini pada dasarnya adalah keaslian pribadi.
THE PURSUIT OF GOD
AW Tozer menulis dalam buku the Pursuit of God: Dewasa ini kita tidak kekurangan guru-guru Alkitab untuk menetapkan prinsip-prinsip doktrin Kristus dengan tepat, tetapi terlalu banyak dari orang-orang ini yang nampaknya puas mengajarkan dasar-dasar iman dari tahun ke tahun, tetapi yang aneh mereka tidak menyadari bahwa dalam pelayanan mereka tidak ada pernyataan hadirat Allah dan dalam hidup mereka tidak ada sesuatu yang luar biasa. Mereka terus menerus melayani orang-orang percaya yang merasakan suatu kerinduan dalam hati mereka dimana pengajaran yang disampaikan tidak dapat memberi kepuasaan... Kekurangan ini nyata di mimbar-mimbar kita. Ini adalah sesuatu yang serius dan bukan merupakan skandal kecil dalam Kerajaan Allah, melihat anak-anak Allah kelaparan ketika mereka sebenarnya sedang duduk dihadapan meja Bapa.
JANGAN ASAL BICARA
Berhati-hatilah sebagai seorang Pembicara atau Guru. Kita dituntut untuk sering atau selalu berbicara. Jika tidak berhati-hati, maka bisa saja kita menjadi asal bicara. Satu hal yang harus selalu diingat bahwa peran kita sebagai seorang pembawa pesan. Betapa mudahnya kita berbicara sesuatu yang berasal dari diri sendiri dan bukan Tuhan. 3 pertanyaan yang harus dijawab adalah: Apakah kita masih terus mendengar Tuhan berbicara? Yang kedua adalah apakah kita terus belajar kebenaran dan yang ketiga adalah apakah kita menghidupi apa yang kita katakan. Jangan sampai tekanan kesibukan dan tuntutan pelayanan membuat kita burn out dan mengorbankan waktu pribadi. Keintiman dengan Tuhan harus menjadi top priority.
I AM THANKING YOU NOW
I am not going to wait until I see results or receive rewards……
I am thanking You now. I am not going to wait until I feel better or things look better……
I am thanking You now. I am not going to wait until the pain in my body disappears……
I am thanking You now. I am not going to wait until my financial situation improves……
I am thanking You now. I am not going to wait until the children are asleep and the house is quiet……
I am thanking You now. I am not going to wait until I get promoted at work or get the job I want……
I am thanking You now. I am not going to wait until I understand every experience in my life that has caused me pain or grief……
I am thanking You now. I am not going to wait until the journey gets easier or the challenges are removed……
I am thanking You now. I am thanking You because I am alive!
I am thanking You because I have the ability and the opportunity to do more and do better
I am thanking You because… Father… You haven’t given up on me.
I am thanking You for Your precious Son, Jesus, who died to save me from sin.
I am thanking You now because I know this life is only temporary and someday pain and sadness will cease.
I am thanking You now Lord, because I know that one day I will forever be with You.
Thank You, Father.
I am thanking You now. I am not going to wait until I feel better or things look better……
I am thanking You now. I am not going to wait until the pain in my body disappears……
I am thanking You now. I am not going to wait until my financial situation improves……
I am thanking You now. I am not going to wait until the children are asleep and the house is quiet……
I am thanking You now. I am not going to wait until I get promoted at work or get the job I want……
I am thanking You now. I am not going to wait until I understand every experience in my life that has caused me pain or grief……
I am thanking You now. I am not going to wait until the journey gets easier or the challenges are removed……
I am thanking You now. I am thanking You because I am alive!
I am thanking You because I have the ability and the opportunity to do more and do better
I am thanking You because… Father… You haven’t given up on me.
I am thanking You for Your precious Son, Jesus, who died to save me from sin.
I am thanking You now because I know this life is only temporary and someday pain and sadness will cease.
I am thanking You now Lord, because I know that one day I will forever be with You.
Thank You, Father.
Jumat, 25 Maret 2011
BEKERJA LEBIH CERDAS
Olumide Emmanuel dalam buku Bagaimana Membangun Jaminan Keuangan menulis:
Jika bekerja merupakan cara untuk menjadi kaya, maka hanya akan sedikit saja orang miskin di dunia ini. Faktanya, banyak orang bekerja tanpa henti namun tetap saja miskin karena tidak tahu bagaimana caranya menerjemahkan pekerjaan mereka menjadi kekayaan. Kerja keras harus disertai dengan kerja cerdas untuk menghasilkan keuntungan yang diharapkan. Banyak orang yang ingin menjadi kaya dan makmur, tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya. Banyak orang tahu apa yang mereka inginkan tetapi tidak tahu bagaimana mendapatkannya.
Jika bekerja merupakan cara untuk menjadi kaya, maka hanya akan sedikit saja orang miskin di dunia ini. Faktanya, banyak orang bekerja tanpa henti namun tetap saja miskin karena tidak tahu bagaimana caranya menerjemahkan pekerjaan mereka menjadi kekayaan. Kerja keras harus disertai dengan kerja cerdas untuk menghasilkan keuntungan yang diharapkan. Banyak orang yang ingin menjadi kaya dan makmur, tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya. Banyak orang tahu apa yang mereka inginkan tetapi tidak tahu bagaimana mendapatkannya.
RETHINGKING THE CHURCH
James Emery White menulis dalam buku Rethinking the Church: Ada kebutuhan mendesak bagi gereja dan pemimpinnya untuk memikirkan ulang mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka melakukannya. Beberapa tahun belakangan ini, ada kecenderungan untuk membagi gereja kedalam sekumpulan tugas dan program, kemudian memusatkan perhatian untuk mencoba meningkatkan kinerja tugas-tugas dan program-program ini. Bukannya memikirkan ulang tentang gereja, kita menjadi sibuk memperbaiki gereja. Tetapi masalah gereja pada saat ini bukanlah masalah dalam tugas, tetapi masalah proses. Pemikiran ulanglah yang perlu kita lakukan. Seperti yang dikatakan Peter Drucker - seorang pakar manajemen terkenal - katakan, ada perbedaan besar antara peningkatan efesiensi yaitu melakukan sesuatu secara benar dan efektifitas yaitu melakukan hal yang benar. Pemikiran ulang tentang gereja adalah tentang efektivitas. Bukan hanya bertanya, "Bagaimana kita membuat hal ini menjadi lebih baik?" Tetapi juga, "Mengapa saya melakukannya dengan cara ini?" Dan secara mendasar, "Mengapa saya melakukan hal ini?"
Langganan:
Komentar (Atom)