Madame Jeanne Guyon menulis dalam buku Mengalami Kristus Melalui Doa: Betapa seringnya kita menempelkan perban ke tubuh bagian luar padahal penyakitnya justru berada "di dalam"! Alasan mengapa kita seringkali gagal dalam memulihkan manusia adalah karena kita hanya menangani masalah yang eksternal daripada yang internal.
Dengan mengajar seseorang untuk mencari Allah di dalam hatinya, memikirkan Dia, kembali kepada Dia kapanpun ia telah mengembara dan memiliki satu fokus untuk menyenangkan Dia, sebenarnya kita sedang memimpin orang itu kepada sumber segala anugerah. Disana mereka akan menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pengudusan.
Christianty without discipleship is always christianity without Christ (Dietrich Bonhoeffer)
Senin, 01 November 2010
Rabu, 01 September 2010
SINGKIRKAN BATASAN-BATASAN YANG ADA
Kris Vallotton dalam buku Developing Supernatural Lifestyle menulis:
Allah tidak pernah menghendaki karunia2 Roh dibatasi oleh dinding gereja. Sebagian besar mujizat dalam Alkitab terjadi di luar jalan tol kudus, di hutan rimba realitas. Syukur kepada Allah, ada transisi besar dalam Kerajaan. Kita sedang beralih dari pelayanan bagi orang2 kudus menjadi pelayanan dari orang2 kudus. Gereja adalah tempat yang kita kunjungi untuk diperlengkapi dengan senjata2 perang, dan merupakan tempat yang sangat baik untuk berlatih hingga kita fasih menggunakannya, dibawah bimbingan instruksi berpengalaman. Akan tetapi penting sekali kita memperlengkapi, mengembangkan dan melatih, dengan maksud mengerahkan.
Sebagian besar umat Kristen tidak siap menghadapi pertempuran yang menanti mereka di masyarakat karena mereka telah berlatih di lingkungan “Benteng Empuk“ yang ramah. Bukan saja mereka dilatih di antara orang2 yang ramah, yang sudah mengenal Allah dan berbahasa kristiani, mereka juga dilatih untuk menghadapi orang2 seperti itu! Sungguh sulit dipersiapkan untuk menghadapi kandang singa ketika berlatih bersama dan menghadapi kucing. Izinkan saya memperjelas. Gereja seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berlatih dan bertumbuh dalam karunia Roh Kudus. Akan tetapi, kalau kita berlatih hanya untuk menghadapi jemaat, kita akan sama sekali tidak efektif diantara orang yang masih sesat dalam kegelapan. Anda hanya bisa sekian lama duduk di simulator sebelum akhirnya harus keluar dan menggemudikan kendaraan yang sesungguhnya.
Allah tidak pernah menghendaki karunia2 Roh dibatasi oleh dinding gereja. Sebagian besar mujizat dalam Alkitab terjadi di luar jalan tol kudus, di hutan rimba realitas. Syukur kepada Allah, ada transisi besar dalam Kerajaan. Kita sedang beralih dari pelayanan bagi orang2 kudus menjadi pelayanan dari orang2 kudus. Gereja adalah tempat yang kita kunjungi untuk diperlengkapi dengan senjata2 perang, dan merupakan tempat yang sangat baik untuk berlatih hingga kita fasih menggunakannya, dibawah bimbingan instruksi berpengalaman. Akan tetapi penting sekali kita memperlengkapi, mengembangkan dan melatih, dengan maksud mengerahkan.
Sebagian besar umat Kristen tidak siap menghadapi pertempuran yang menanti mereka di masyarakat karena mereka telah berlatih di lingkungan “Benteng Empuk“ yang ramah. Bukan saja mereka dilatih di antara orang2 yang ramah, yang sudah mengenal Allah dan berbahasa kristiani, mereka juga dilatih untuk menghadapi orang2 seperti itu! Sungguh sulit dipersiapkan untuk menghadapi kandang singa ketika berlatih bersama dan menghadapi kucing. Izinkan saya memperjelas. Gereja seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berlatih dan bertumbuh dalam karunia Roh Kudus. Akan tetapi, kalau kita berlatih hanya untuk menghadapi jemaat, kita akan sama sekali tidak efektif diantara orang yang masih sesat dalam kegelapan. Anda hanya bisa sekian lama duduk di simulator sebelum akhirnya harus keluar dan menggemudikan kendaraan yang sesungguhnya.
HARI MINGGU & GEDUNG GEREJA
Hal yang sangat memprihatinkan adalah kepercayaan kita pada Tuhan hanya dibatasi oleh hari dan tempat. Hari yang dimaksud adalah hari Minggu, sedangkan tempat yang dimaksud adalah gedung Gereja. Selama kita berada di 2 hal itu, maka hidup kita begitu religius. Betapa saleh, manis, tetapi benarkah hal ini? Kepercayaan kita kepada Tuhan seharusnya berdampak dan meresap dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jadilah umat kerajaanNya dalam 7 hari dalam seminggu dan hidup di semua tempat. Bagaimana mungkin Tuhan disenangkan jika hidup kita memiliki standar ganda? Untuk apa hanya menyembah Dia dan menyenangkan hatiNya dalam ruang lingkup kebaktian, sedangkan dalam kehidupan keseharian, kita hidup dalam pemberontakan terhadap kebenaran-kebenaranNya? Izinkan kehidupan Tuhan dalam diri kita berdampak dalam semua area hidup kita. Bukankah kehadiranNya dalam diri kita itu permanen (setiap waktu)? Dia tidak hanya hadir saat kita beribadah dalam sebuah kebaktian. Jangan batasi Tuhan dengan pola pikir kita yang picik. Dia ingin terlibat setiap waktu dan saat dalam hari-hari hidup kita. Relakah kita mengizinkanNya mendominasi seluruh area hidup kita? Relakah?
Senin, 08 Februari 2010
RESEP KEBERHASILAN 2
Melanjutkan catatan saya yang berjudul RESEP KEBERHASILAN. Adalah suatu hal yang bodoh, jika kita berpikir hanya dengan berdoa dan percaya kepada Tuhan saja, maka kita akan mengalami keberhasilan. Tanpa bermaksud meremehkan doa dan iman. Tetapi 2 hal ini tidak akan pernah menggantikan pentingnya ketaatan kita terhadap prinsip-prinsip Firman Allah. Bagi orang percaya yang sudah dengan tekun berdoa dan beriman bahwa Tuhan akan memberkati saudara, marilah kita evaluasi hidup kita secara jujur. Sudahkah kita melakukan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Alkitab? Jangan hanya menjadikan Alkitab sebagai buku bacaan wajib rutin harian saja. Sudah waktunya kita mengizinkan prinsip-prinsip kebenaran ini mewarnai kehidupan kita. Yang seringkali kurang dari kita adalah bukan membaca Alkitab, tetapi justru pada follow up setelah kita membacanya. Marilah kita koreksi diri masing-masing, sudahkah prinsip-prinsip Kebenaran dalam Alkitab menjadi "daging" dalam diri kita? Mulailah belajar untuk menerapkan semua prinsip Kebenaran dalam keseharian kita. Tidak cukup diterapkan hanya sekali-kali, tetapi lakukan secara konsisten. Walaupun setelah kita melakukannya, belum terjadi perubahan dan dirasakan manfaatnya, tetaplah bertekun, maka kita akan melihat bahwa Firman Allah sungguh Ya dan Amin! Tidak peduli bagaimana keadaan kita hari ini. Putuskanlah bukan hanya mempercayai Tuhan dan Alkitab sebagai kebenaran, tetapi wujudkanlah keyakinan kita dengan menerapkan semua kebenarannya dalam kehidupan kita. Selamat mencoba!!!
RESEP KEBERHASILAN
Pernahkah kita melihat seseorang yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi kehidupannya mengalami keberhasilan dalam kehidupannya? Yang ironis justru banyak orang percaya yang tidak mengalami keberhasilan seperti mereka. Bukankah Tuhan menyertai dan memberkati, tetapi mengapa banyak orang percaya yang mengalami kegagalan demi kegagalan? John Avanzini memiliki hoby membaca biografi dari orang-orang sukses. Tidak peduli orang sukses tersebut percaya Tuhan atau tidak. Dari hasil pengamatannya, John menarik sebuah kesimpulan. Penyebab keberhasilan mereka adalah karena mereka melakukan prinsip-prinsip kebenaran yang terdapat dalam Alkitab. Contohnya prinsip ketekunan, kerajinan, integritas, memberi dan prinsip-prinsip kebenaran Alkitab lainnya. Mereka boleh saja tidak mempercayai Tuhan dan Alkitab, tetapi karena mereka melakukan prinsip-prinsip kebenaran Tuhan yang terdapat dalam Alkitab, maka prinsip itu bekerja bagi mereka. Berdasarkan pengamatan saya terhadap orang-orang percaya yang terus menerus mengalami kegagalan, maka saya menemukan bahwa sebagian besar dari mereka justru tidak melakukan prinsip-prinsip kebenaran dalam Alkitab. Ironis... Kita percaya Tuhan dan Alkitab sebagai Firman Allah, tetapi mengapa kepercayaan tersebut tidak membuat kita melakukannya? Kebenaran Firman Tuhan yang adalah prinsip-prinsip kebenaran dan kehidupan, seharusnya tidak hanya dipercayai, tetapi ditaati. Diterapkan secara konsisten dalam keseharian kita. Sudah waktunya kita mewujudkan kepercayaan kita dalam tindakan ketaatan. Dan jangan heran, jika dikemudian hari kita akan mengalami keberhasilan. Karena keberhasilan adalah dampak dari kita kehidupan yang menerapkan prinsip kehidupan dalam keseharian kita.
Sabtu, 06 Februari 2010
JEMBATAN ATAUKAH TEMBOK
Panggilan yang sangat menantang sebagai orang percaya adalah sebagai batu loncatan sehingga dunia dapat menerima Tuhan. Ada 2 pilihan sebagai batu loncatan ataukah sebagai batu sandungan. Seringkali kita melupakan akan kebenaran ini. Akhirnya hidup kita bukan sebagai jembatan (penghubung) untuk orang-orang datang, tetapi sebagai Tembok (penghalang). Tanggung jawab inilah yang seharusnya disadari oleh setiap kita. Kesadaran akan tanggung jawab ini akan membuat hidup kita tidak seenaknya. Dalam bersikap, dalam bertutur kata, akan lebih bijaksana. Kita bukan sekedar hidup, tetapi ada misi KerajaanNya. Sebagai Duta Besar yang diutus Tuhan untuk mewakili kepentingan Kerajaan. Belajarlah membawa diri setiap saat, karena nama baik RAJA kitalah yang sedang dipertaruhkan. Putuskanlah sebagai jembatan bagi dunia, sehingga lewat hidup kita, mereka dapat datang pada Yesus. Jangan sampai kita menjadi tembok penghalang...
MERASAKAN APA YANG ROH KUDUS RASAKAN
Selama ini kita mempercayai kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan kita. Tetapi pernahkah kita berpikir betapa pentingnya menyelaraskan kehidupan kita dengan kehendakNya? Belajarlah untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh RohNya didalam kita. Belajarlah untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkanNya dan apa yang menjadi keinginanNya bagi hidup kita.
Dibutuhkan ketenangan untuk bisa merasakan apa yang sedang dirasakanNya.... KehadiranNya yang permanen di dalam kita, membuat kita mengalami hadiratNya setiap waktu dan setiap saat. Tingkatkanlah Awarness akan kehadiranNya di dalam kita. Luangkan waktu berdiam diri untuk dapat merasakan dan mengalami kehadiranNya. Kesibukan dan hiruk pikuk dalam kehidupan kitalah yang seringkali menjadi penghalang kita mengalami kehadiranNya. Dengarlah suaraNya yang lembut, dimana Dia sedang membangun komunikasi dengan diri kita.
Dibutuhkan ketenangan untuk bisa merasakan apa yang sedang dirasakanNya.... KehadiranNya yang permanen di dalam kita, membuat kita mengalami hadiratNya setiap waktu dan setiap saat. Tingkatkanlah Awarness akan kehadiranNya di dalam kita. Luangkan waktu berdiam diri untuk dapat merasakan dan mengalami kehadiranNya. Kesibukan dan hiruk pikuk dalam kehidupan kitalah yang seringkali menjadi penghalang kita mengalami kehadiranNya. Dengarlah suaraNya yang lembut, dimana Dia sedang membangun komunikasi dengan diri kita.
Keberadaan Roh Kudus seharusnya dapat dialami secara maksimal. Kesempatan untuk mengalami keintiman dialami oleh setiap orang percaya. Bukankah ini anugerah yang sangat luar biasa???
Langganan:
Postingan (Atom)