Christianty without discipleship is always christianity without Christ (Dietrich Bonhoeffer)
Senin, 01 November 2010
PERNIKAHAN: MAHA KARYA ALLAH
Gary Rosberg menulis: Pernikahan anda adalah Maha Karya Tuhan. Sang Pencipta pada hakikatnya memimpikan sebuah pernikahan secara utuh. Ia memimpikan pernikahan sebagai sebuah sarana untuk mendekatkan kita kepadaNya. Di seantero negeri, pasangan demi pasangan membangun posisi yang kokoh untuk menciptakan pernikahan yang unggul - pernikahan yang mengikuti pola maha karya asli Tuhan dan menerima kebenaran bahwa pada akhirnya pernikahan kita bukan hanya untuk kepentingan kita, melainkan untuk memuliakan Tuhan. Pernikahan anda maupun pernikahan saya betul-betul penting bagi Tuhan, bagi tempat ibadah kita, bagi komunitas kita dan akhirnya bagi nilai-nilai budaya kita, karena pernikahan yang sesuai dengan Alkitab adalah garis pertahanan terdepan Allah terhadap pengaruh dunia.
DATANG & PERGI
Tony Horsfall dalam buku Rhythms of Grace menulis: Ada 2 kata yang hebat dalam Injil, yaitu datang dan pergi. Kata yang pertama adalah mengundang, sedangkan yang kemudian adalah memerintah. Kata yang pertama berbicara tentang keakraban, sedangkan yang kedua tentang aktivitas. Keduanya penting dalam kehidupan, namun kedatangan kita kepada Yesus harus selalu mendahului kepergian kita darinya. Bagi sebagian orang, ada yang terlalu ingin pergi dan tak cukup datang, memberikan hasil dalam kehidupan dimana secara keagamaan memiskinkan, kurang mendalam dan kurang menghayati. Pada saat ini, Roh kembali mengingatkan kita bahwa undangan ilahi dari Yesus untuk memiliki hubungan akrab denganNya tetap menjadi prioritasNya dan dasar bagi segala sesuatu yang lain dalam kehidupan Kristen.
DEDICATED TO JESUS
Floyd Mcclung menulis dalam buku You see Bones I see Army: To be dedicated to Jesus isn't first of all about being a missionary or pastor, but being intentional and obedient in making disciples. You can be a pastor who isn't dedicated, and you can be an engineer who is sold out to God. To join God's mission isn't about geography or vocation, but passionate obedience. Crossing the seas doesn't make one missional, but living purposefully for God does. We are called to be full time, whether it be in Canterbury or Canberra, whether as an accountant or relief worker. We are all called to follow Jesus by making disciples who also love and obey Jesus.
MENGALAMI KRISTUS YANG DIDALAM
Madame Jeanne Guyon menulis dalam buku Mengalami Kristus Melalui Doa: Betapa seringnya kita menempelkan perban ke tubuh bagian luar padahal penyakitnya justru berada "di dalam"! Alasan mengapa kita seringkali gagal dalam memulihkan manusia adalah karena kita hanya menangani masalah yang eksternal daripada yang internal.
Dengan mengajar seseorang untuk mencari Allah di dalam hatinya, memikirkan Dia, kembali kepada Dia kapanpun ia telah mengembara dan memiliki satu fokus untuk menyenangkan Dia, sebenarnya kita sedang memimpin orang itu kepada sumber segala anugerah. Disana mereka akan menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pengudusan.
Dengan mengajar seseorang untuk mencari Allah di dalam hatinya, memikirkan Dia, kembali kepada Dia kapanpun ia telah mengembara dan memiliki satu fokus untuk menyenangkan Dia, sebenarnya kita sedang memimpin orang itu kepada sumber segala anugerah. Disana mereka akan menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pengudusan.
Rabu, 01 September 2010
SINGKIRKAN BATASAN-BATASAN YANG ADA
Kris Vallotton dalam buku Developing Supernatural Lifestyle menulis:
Allah tidak pernah menghendaki karunia2 Roh dibatasi oleh dinding gereja. Sebagian besar mujizat dalam Alkitab terjadi di luar jalan tol kudus, di hutan rimba realitas. Syukur kepada Allah, ada transisi besar dalam Kerajaan. Kita sedang beralih dari pelayanan bagi orang2 kudus menjadi pelayanan dari orang2 kudus. Gereja adalah tempat yang kita kunjungi untuk diperlengkapi dengan senjata2 perang, dan merupakan tempat yang sangat baik untuk berlatih hingga kita fasih menggunakannya, dibawah bimbingan instruksi berpengalaman. Akan tetapi penting sekali kita memperlengkapi, mengembangkan dan melatih, dengan maksud mengerahkan.
Sebagian besar umat Kristen tidak siap menghadapi pertempuran yang menanti mereka di masyarakat karena mereka telah berlatih di lingkungan “Benteng Empuk“ yang ramah. Bukan saja mereka dilatih di antara orang2 yang ramah, yang sudah mengenal Allah dan berbahasa kristiani, mereka juga dilatih untuk menghadapi orang2 seperti itu! Sungguh sulit dipersiapkan untuk menghadapi kandang singa ketika berlatih bersama dan menghadapi kucing. Izinkan saya memperjelas. Gereja seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berlatih dan bertumbuh dalam karunia Roh Kudus. Akan tetapi, kalau kita berlatih hanya untuk menghadapi jemaat, kita akan sama sekali tidak efektif diantara orang yang masih sesat dalam kegelapan. Anda hanya bisa sekian lama duduk di simulator sebelum akhirnya harus keluar dan menggemudikan kendaraan yang sesungguhnya.
Allah tidak pernah menghendaki karunia2 Roh dibatasi oleh dinding gereja. Sebagian besar mujizat dalam Alkitab terjadi di luar jalan tol kudus, di hutan rimba realitas. Syukur kepada Allah, ada transisi besar dalam Kerajaan. Kita sedang beralih dari pelayanan bagi orang2 kudus menjadi pelayanan dari orang2 kudus. Gereja adalah tempat yang kita kunjungi untuk diperlengkapi dengan senjata2 perang, dan merupakan tempat yang sangat baik untuk berlatih hingga kita fasih menggunakannya, dibawah bimbingan instruksi berpengalaman. Akan tetapi penting sekali kita memperlengkapi, mengembangkan dan melatih, dengan maksud mengerahkan.
Sebagian besar umat Kristen tidak siap menghadapi pertempuran yang menanti mereka di masyarakat karena mereka telah berlatih di lingkungan “Benteng Empuk“ yang ramah. Bukan saja mereka dilatih di antara orang2 yang ramah, yang sudah mengenal Allah dan berbahasa kristiani, mereka juga dilatih untuk menghadapi orang2 seperti itu! Sungguh sulit dipersiapkan untuk menghadapi kandang singa ketika berlatih bersama dan menghadapi kucing. Izinkan saya memperjelas. Gereja seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berlatih dan bertumbuh dalam karunia Roh Kudus. Akan tetapi, kalau kita berlatih hanya untuk menghadapi jemaat, kita akan sama sekali tidak efektif diantara orang yang masih sesat dalam kegelapan. Anda hanya bisa sekian lama duduk di simulator sebelum akhirnya harus keluar dan menggemudikan kendaraan yang sesungguhnya.
HARI MINGGU & GEDUNG GEREJA
Hal yang sangat memprihatinkan adalah kepercayaan kita pada Tuhan hanya dibatasi oleh hari dan tempat. Hari yang dimaksud adalah hari Minggu, sedangkan tempat yang dimaksud adalah gedung Gereja. Selama kita berada di 2 hal itu, maka hidup kita begitu religius. Betapa saleh, manis, tetapi benarkah hal ini? Kepercayaan kita kepada Tuhan seharusnya berdampak dan meresap dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jadilah umat kerajaanNya dalam 7 hari dalam seminggu dan hidup di semua tempat. Bagaimana mungkin Tuhan disenangkan jika hidup kita memiliki standar ganda? Untuk apa hanya menyembah Dia dan menyenangkan hatiNya dalam ruang lingkup kebaktian, sedangkan dalam kehidupan keseharian, kita hidup dalam pemberontakan terhadap kebenaran-kebenaranNya? Izinkan kehidupan Tuhan dalam diri kita berdampak dalam semua area hidup kita. Bukankah kehadiranNya dalam diri kita itu permanen (setiap waktu)? Dia tidak hanya hadir saat kita beribadah dalam sebuah kebaktian. Jangan batasi Tuhan dengan pola pikir kita yang picik. Dia ingin terlibat setiap waktu dan saat dalam hari-hari hidup kita. Relakah kita mengizinkanNya mendominasi seluruh area hidup kita? Relakah?
Senin, 08 Februari 2010
RESEP KEBERHASILAN 2
Melanjutkan catatan saya yang berjudul RESEP KEBERHASILAN. Adalah suatu hal yang bodoh, jika kita berpikir hanya dengan berdoa dan percaya kepada Tuhan saja, maka kita akan mengalami keberhasilan. Tanpa bermaksud meremehkan doa dan iman. Tetapi 2 hal ini tidak akan pernah menggantikan pentingnya ketaatan kita terhadap prinsip-prinsip Firman Allah. Bagi orang percaya yang sudah dengan tekun berdoa dan beriman bahwa Tuhan akan memberkati saudara, marilah kita evaluasi hidup kita secara jujur. Sudahkah kita melakukan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Alkitab? Jangan hanya menjadikan Alkitab sebagai buku bacaan wajib rutin harian saja. Sudah waktunya kita mengizinkan prinsip-prinsip kebenaran ini mewarnai kehidupan kita. Yang seringkali kurang dari kita adalah bukan membaca Alkitab, tetapi justru pada follow up setelah kita membacanya. Marilah kita koreksi diri masing-masing, sudahkah prinsip-prinsip Kebenaran dalam Alkitab menjadi "daging" dalam diri kita? Mulailah belajar untuk menerapkan semua prinsip Kebenaran dalam keseharian kita. Tidak cukup diterapkan hanya sekali-kali, tetapi lakukan secara konsisten. Walaupun setelah kita melakukannya, belum terjadi perubahan dan dirasakan manfaatnya, tetaplah bertekun, maka kita akan melihat bahwa Firman Allah sungguh Ya dan Amin! Tidak peduli bagaimana keadaan kita hari ini. Putuskanlah bukan hanya mempercayai Tuhan dan Alkitab sebagai kebenaran, tetapi wujudkanlah keyakinan kita dengan menerapkan semua kebenarannya dalam kehidupan kita. Selamat mencoba!!!
Langganan:
Postingan (Atom)