Sabtu, 26 Maret 2011

BERSATU ATAU HANCUR

Bangsa ini berdiri dan merdeka karena kuasa dari kesatuan, tetapi bangsa ini akan hancur akibat dari perpecahan. Bhineka Tunggal Ikalah yang menjadi modal bagi bapak-bapak kita untuk berjuang merebut kemerdekaan. Sangat disayangkan semangat ini telah mulai luntur. Jangan izinkan kepentingan agama, kesukuan dan hal-hal yang lain memecah belah bangsa kita. Ini saatnya kita kobarkan semangat kebangsaan kita. Satu Nusa satu bangsa, satu bahasa kita. Lihatlah perbedaan yang ada bukan sebagai alasan untuk kita terpecah belah. Justru lihatlah setiap perbedaan yang ada sebagai kekayaan dan alasan untuk kita bersatu. Salah satu hal yang membuat bangsa-bangsa lain kagum adalah karena walaupun bangsa ini memiliki perbedaan, tetapi itu tidak menjadi penghalang untuk terjadinya kesatuan. Seperti lomba lari estafet, para pendahulu kita telah belari dan menyelesaikan bagian mereka. Ingatlah! Tongkat itu sekarang berada di tangan kita. Ini waktunya untuk berlari. Ini waktunya kita berkarya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Jangan izinkan perpecahan menghancurkan, meluluh lantakan bangsa tercinta ini. Perluas pikiranmu yang sempit dalam memandang keberbedaan. Belajar untuk saling menghormati keberbedaan orang lain adalah langkah awal untuk memiliki jiwa yang besar! Jayalah Indonesiaku...

PENONTON, KOMENTATOR ATAUKAH PEMAIN?

Terlalu banyak penonton & komentator di bangsa ini, hanya pemainlah yang akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik. Turunlah dari bangku penonton & mulailah terlibat menjadi pembangun-pembangun bangsa! Mulailah berpikir dan bertanya: Apa yg dapat kuberikan bagi bangsa ini? Mencerca pemerintah tidak membuat bangsa ini berubah. "Apa sumbangsihku untuk mewujudkan Indonesia yang jaya?" Harus menjadi pertanyaan bagi setiap anak bangsa ini. Wujudkanlah itu dalam karya yang nyata, niscaya kita telah memberi sumbangsih bagi bangsa tercinta ini. Seberapa besarkah cintamu bagi bangsa ini? Para Bapa-bapa kita telah menyerahkan nyawanya untuk merebut kemerdekaan Indonesia, sekarang bagian kitalah memberi hidup kita untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan bangsa tercinta ini. Temukan peranmu sebagai pembangun bangsa ini. Seandainya setiap anak bangsa menangkap tugas mulia ini, wajah bangsa ini akan mulai berubah. Kejayaan, keharuman bangsa ini, ditentukan oleh peran kita sebagai anak bangsa. Merdeka Indonesiaku!

HUTANG KEBANGSAAN

Salam kebangsaan... Kesadaran bahwa kita berhutang pada bangsa ini, seharusnya membuat kita mulai berpikir sehingga mengetahui karya apakah u/ membuat indonesia menjadi lebih baik. Mulailah melakukan hal yang menurut kita kecil untuk masyarakat. Selama kita konsisten melakukannya, maka hal-hal kecil atau sepele tersebut akan membawa dampak yang besar dikemudia hari. Tengoklah hal-hal besar yang terjadi hari ini ada karena ada orang-orang yang melakukan hal-hal kecil pada masanya secara konsisten. Bayarlah hutangmu kepada bangsa ini.
Para pendahulu, yaitu para pahlawan telah memberi hidup mereka untuk membuat bangsa ini merdeka. Tongkat estafet telah diserahkan kepada generasi kita. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan tanpa ada yang mengisinya hanya akan menjadi tonggak sejarah. Isilah kemerdekaan bangsa ini dengan karya yang nyata. Diskusi saja tidak merubah nasib bangsa ini. Para pahlawan telah berbuat sesuatu pada zamannya secara maksimal. Pertanyaannya bagaimana dengan kita? Hal apakah yang sudah kita buat bagi bangsa ini? Sudahkah kita mengerjakannya dengan maksimal? Hari ini ada karena hasil perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita, sedangkan kualitas masa depan anak-anak kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan dalam kekinian. Sebagai anak bangsa, tunaikan kewajibanmu... Karya generasi kita bagi bangsa ini akan menoreh sejarah di masa depan. Berhenti menjadi penonton kehancuran yang sedang terjadi di bangsa ini. Ini waktunya semangat kebangsaan kita dibangkitkan! Nyatakan karyamu untuk membuat Indonesia Sejahtera!

POWER OF DECISION

Kenneth W Hagin wrote: Someone once said, "Life is nothing more than a series of decisions." Every day, we make a number of decisions. From the mundane decisions of deciding to get out of bed, what to wear and what to eat, to the critical decisions of where to live, where to work and whom to marry - we are constantly making decisions. Some of decisions aren't very important. Others can affect the rest of our lives. One thing is certain: decisions shape our future. The decisions make today determine where you will be tomorrow, who you will be tomorrow, what you will have tomorrow and what kind of life you will live tomorrow. Learn to lean on the Holy Spirit and He will help you make decisions that will lead you into the life God has planned for you.

GEREJA PERJANJIAN BARU ATAU LAMA

Jack Deere dalam buku Surprised by the Voice of God menulis: Beberapa dari kita di dalam gereja tidak pernah mengalami kemajuan rohani, karena kita membohongi diri kita sendiri dan satu dengan yang lain. Kita memberitahu pada diri kita sendiri bahwa kita memiliki gereja Perjanjian Baru dan bahwa kita adalah orang-orang Perjanjian Baru padahal baik gereja kita maupun kehidupan kita tidak banyak menampilan apa pun dari Perjanjian Baru. Kita tidak bertumbuh secara otomatis dengan perjalanan waktu. Kita tidak hanya menjadi puas dengan pengalaman Kristen yang sangat jauh dibawah Kekristenan Perjanjian Baru, kita sudah mengembangkan segala macam teologi untuk membenarkan pengalaman kita yang rendah mutunya. Tanpa adanya penilaian realistis terhadap pengalaman rohani kita, kita tidak akan pernah mengalami kemajuan di dalam Kerajaan Allah. Pertumbuhan mulai pada saat kita menyadari kemiskinan dan ketidak berdayaan kita secara rohani.

PERTUNJUKAN KEAGAMAAN

Neil Cole dalam buku Organic Church menulis:Dunia ini tertarik kepada Yesus, tetapi mereka tidak ingin menghabiskan waktu mereka dengan isteriNya.Kita tidak cukup hanya memenuhi gereja; kita harus mengubah dunia.

Masyarakat dan budaya harus berubah jika gereja mau sungguh-sungguh efektif.Apakah gereja menjangkau keluar dan melihat kehidupan berubah karena kabar baik tentang Kerajaan Allah? Tentu saja jumlah orang kristen akan meningkat jika ini terjadi, tetapi memenuhi bangku gereja satu hari seminggu bukan apa yang menjadi intisari Kerajaan. Ukuran pengaruh gereja ditemukan dalam masyarakat, dijalan, bukan di bangku gereja.Kita telah membuat gereja menjadi tidak lebih dari pertunjukan keagamaan yang terjadi pada hari Minggu dan setelah semua itu dilakukan kita semua pulang ke rumah, sampai gereja mulai lagi minggu berikutnya, pada waktu yang sama, ditempat yang sama. Apakah seperti ini mempelai Kristus itu? Amanat Agung mengatakan bahwa kita harus “pergi ke seluruh dunia”, tetapi kita telah memutar balikkan segala sesuatu dan membuatnya menjadi “datanglah kepada kami dan dengarlah pesan kami”. Seolah-olah sekedar bergabung pada hari Minggu selama satu setengah jam sudah cukup untuk mengatakan bahwa kita ada “di dalam”. Keselamatan tidak ditentukan oleh kalender hari Minggu anda atau wajah tersenyum anda di gereja. Jangan membawa orang-orang ke gereja sehingga kita kemudian bisa membawa mereka kepada Kristus, tetapi bawalah Kristus kepada orang-orang di mana mereka tinggal. Kita harus membawa Kristus ke dalam kehidupan orang-orang dan hal itu harus ada dalam konteks hubungan. Yesus masih berinkarnasi; kita sekarang adalah kakiNya, tanganNya, mataNya dan mulutNya. Kita adalah tubuh Kristus. Teolog Lesslie Newbigin berkata: “Gereja diutus ke dalam dunia untuk melanjutkan apa yang telah Ia kerjakan sesuai tujuanNya dengan kuasa Roh yang sama dan mendamaikan orang-orang dengan Allah”.

THAT WE MIGHT KNOW HIM

Lynette Hagin menulis dalam artikel yang berjudul That We Might Know Him: It's a natural fact that the more time You spend with someone, the better You know that person. We can also get to know our Heavenly Father by spending time with Him in prayer. DL Moody once said, in effect, "I would rather learn to pray than to preach." Jesus never taught His disciples how to preach, but He did teach them how to pray. Jesus knew that prayer was vital to disciples' success in life and ministry.